Satlantas Polres Berau Ingatkan Pengendara Abaikan Pelanggaran dan Kelalaian di Jalan Bisa Berujung Petaka

img

POSKOTAKALTIMNEWS, BERAU : Kecelakaan lalu lintas sering kali dianggap sebagai sebuah kejadian yang datang secara tiba-tiba. Namun, di balik sebuah kecelakaan, terdapat berbagai faktor yang menjadi pemicunya. Salah satunya adalah pelanggaran lalu lintas yang kerap dianggap sepele dan dibiarkan berulang.


Meski secara keseluruhan angka kecelakaan lalu lintas di Kabupaten Berau menunjukkan kecenderungan menurun, jumlah kejadian yang terjadi masih menjadi perhatian aparat kepolisian.

 

Untuk itu Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Berau mengingatkan masyarakat agar senantiasa berhati-hati dengan kondisi jalan, dan juga mulai membangun kesadaran bahwa keselamatan berkendara sangat bergantung pada perilaku masing-masing pengguna jalan.

 

Kasatlantas Polres Berau AKP Rhondy Hermawan mengatakan, jika dibandingkan berdasarkan periode semester, angka kecelakaan lalu lintas di wilayah Berau secara umum mengalami penurunan.

 

“Kalau secara garis besar memang cenderung menurun. Kita melakukan perbandingan berdasarkan semester, dan kalau dilihat dari awal tahun memang mengalami penurunan,” ujar Rhondy saat diwawancarai, Selasa (11/8/2026).

 

Namun, penurunan tersebut bukan berarti masyarakat dapat lengah. Menurutnya, kecelakaan lalu lintas tetap menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian bersama. Ada sejumlah faktor yang dapat menyebabkan terjadinya kecelakaan, mulai dari perilaku pengendara, kondisi kendaraan, faktor alam hingga kondisi jalan.

 

“Kalau secara garis besar, faktor penyebab kecelakaan ada empat. Ada faktor manusia, faktor kendaraan, faktor alam, dan faktor jalan,” jelasnya.

 

Dari berbagai faktor tersebut, faktor manusia menjadi salah satu hal yang paling mendapat sorotan. Sebab, keputusan yang diambil seseorang ketika berada di balik kemudi atau setang kendaraan dapat menentukan keselamatan dirinya maupun pengguna jalan lainnya.

 

Kondisi tubuh yang tidak fit, mengantuk, tidak fokus, hingga mengalami microsleep atau tertidur sangat singkat saat berkendara dapat membuat pengendara kehilangan kendali dalam hitungan detik. Begitu pula dengan kebiasaan memacu kendaraan melebihi batas kecepatan yang telah ditentukan.

 

“Pada intinya, dari faktor manusia itu yang menjadi faktor penyebab utama. Artinya lalai, kemudian tidak fokus dalam berkendara, microsleep, dan lain sebagainya,” kata Rhondy.

 

Ia menegaskan, pelanggaran batas kecepatan juga tidak bisa dipandang sebagai persoalan kecil. Semakin tinggi kecepatan kendaraan, semakin kecil pula waktu yang dimiliki pengendara untuk bereaksi ketika menghadapi situasi yang tidak terduga.

 

Karena itu, kesadaran untuk mematuhi aturan lalu lintas harus dimulai dari diri sendiri. Pengendara tidak seharusnya menunggu adanya petugas, razia, atau teguran untuk kemudian tertib di jalan.

 

Selain faktor manusia, kondisi geografis dan karakteristik jalan di Berau juga menjadi tantangan tersendiri dalam menciptakan keselamatan berlalu lintas. Tidak semua ruas jalan di wilayah tersebut memiliki penerangan yang memadai.

 

“Kalau dari faktor jalan, memang di wilayah kita ini masih kurang penerangan. Berbeda dengan di daerah Jawa yang hampir sepanjang jalan ada penerangan. Kalau di sini kebanyakan kebun dan hutan, artinya dari segi penerangan memang kurang,” ungkapnya.

 

Kondisi tersebut tentu membutuhkan kewaspadaan ekstra dari pengendara. Kecepatan kendaraan harus disesuaikan dengan kondisi lingkungan dan kemampuan pengemudi dalam melihat situasi di depan.

 

Dengan kondisi jalan yang minim penerangan, memacu kendaraan terlalu cepat justru dapat meningkatkan risiko kecelakaan. Jika dilihat dari kelompok usia, kecelakaan lalu lintas cenderung berkaitan dengan kelompok usia produktif. Hal tersebut tidak terlepas dari tingginya mobilitas masyarakat pada usia tersebut.

 

Pelajar, pekerja, maupun masyarakat yang menjalankan aktivitas sehari-hari merupakan kelompok yang paling banyak menggunakan kendaraan untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya.

 

“Kalau dari segi usia, cenderung usia-usia produktif. Karena yang sering keluar rumah atau melakukan aktivitas pasti usia produktif, seperti pelajar, pekerja, dan lain sebagainya,” ujarnya.

 

Sementara berdasarkan waktu kejadian, kecelakaan lebih banyak terjadi pada siang hari, terutama di kawasan permukiman. Sedangkan kecelakaan pada malam hari disebut relatif lebih jarang.

 

Meski demikian, masyarakat tetap diminta tidak menganggap waktu tertentu sebagai kondisi yang sepenuhnya aman. Risiko kecelakaan tetap dapat terjadi kapan saja apabila pengendara kehilangan konsentrasi dan mengabaikan aturan keselamatan. Pesan paling penting yang disampaikan Satlantas Polres Berau adalah mengenai kebiasaan masyarakat dalam mengabaikan pelanggaran lalu lintas. Menurut Rhondy, sebuah pelanggaran yang dilakukan berulang kali dan dianggap biasa dapat menjadi salah satu awal terjadinya kecelakaan.

 

“Setiap kecelakaan pasti didahului dengan pelanggaran. Ataupun pelanggaran yang diabaikan, pelanggaran yang sifatnya tidak ditanggapi,” tegasnya.

 

Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa keselamatan berlalu lintas tidak cukup hanya mengandalkan kehati-hatian ketika berkendara. Kepatuhan terhadap aturan juga merupakan bagian penting dalam mencegah kecelakaan. Sebab, pelanggaran yang terlihat kecil seperti tidak menggunakan perlengkapan keselamatan, melaju terlalu cepat, menerobos aturan, atau berkendara dalam kondisi tidak layak dapat memiliki konsekuensi yang jauh lebih besar.

 

Untuk mencegah kecelakaan, Satlantas Polres Berau mengimbau masyarakat memastikan kondisi fisik sebelum memulai perjalanan. Pengendara harus memastikan tubuh dalam keadaan sehat dan tidak mengantuk. Berkendara dalam kondisi mengantuk sangat berbahaya karena konsentrasi dan kemampuan merespons situasi di jalan dapat menurun.

 

Pengendara juga dilarang mengemudi dalam pengaruh alkohol maupun narkoba. “Yang pertama berkaitan dengan faktor penyebab kecelakaan, yaitu faktor manusia. Sebelum berkendara, kita harus memastikan kondisi badan kita fit. Artinya tidak mengantuk, tidak dalam pengaruh alkohol, tidak dalam pengaruh narkoba, dan dalam kondisi sehat jasmani,” jelas Rhondy.

 

Menurutnya, perjalanan yang dipaksakan dalam kondisi tubuh tidak prima justru dapat membahayakan diri sendiri maupun orang lain. Jika merasa mengantuk atau tidak dalam kondisi fit, pengendara sebaiknya beristirahat terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan. Tidak hanya kondisi pengendara, kendaraan juga harus dipastikan dalam keadaan layak digunakan.

 

Pemeriksaan sederhana sebelum berangkat dapat menjadi langkah penting untuk mencegah kecelakaan akibat kerusakan kendaraan. Rem, lampu, ban, hingga wiper bagi kendaraan roda empat perlu diperiksa. Pengendara harus memastikan tidak terdapat kerusakan yang dapat mengganggu keselamatan selama perjalanan.

 

“Dari faktor kendaraannya, kita harus selalu cek, recheck, dan crosscheck. Kendaraan kita sudah prima atau belum, remnya, lampunya, kemudian bannya, dan wipernya kalau mobil. Itu harus betul-betul dicek,” katanya.

 

Pemeriksaan tersebut memang terlihat sederhana. Namun, memastikan kendaraan dalam kondisi baik sebelum berangkat jauh lebih baik daripada mengetahui adanya kerusakan ketika kendaraan sudah berada di tengah perjalanan.

 

Selain mengingatkan pengendara secara umum, Satlantas Polres Berau juga memberikan perhatian khusus kepada para orang tua. Orang tua diminta tidak memberikan kendaraan bermotor kepada anak yang belum memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM).

 

Menurut Rhondy, kepemilikan SIM menjadi salah satu indikator bahwa seseorang telah memenuhi persyaratan untuk mengendarai kendaraan bermotor.

 

“Khususnya orang tua yang memiliki anak yang masih belum memiliki SIM, indikator boleh mengendarai sepeda motor maupun kendaraan bermotor itu harus memiliki SIM. Jadi, belum punya SIM tapi sudah mengendarai kendaraan, itu yang harus menjadi perhatian,” pungkasnya.

 

Imbauan tersebut menjadi penting mengingat anak-anak maupun pelajar merupakan bagian dari kelompok pengguna kendaraan bermotor yang memiliki mobilitas cukup tinggi. (sep/FN)